TINGALAN JUMENENGAN SULTAN HB X
Nusuk untuk 3 Windu Naik Takhta Sultan

Foto Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas didampingi putrinya, GKR Pembayun bersama sejumlah istri kerabat Keraton Ngayogyakarta dibantu abdi dalem keparak melaksanakan tradisi membuat kue apem dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X (peringatan naik tahta) di Bangsal Sekar Kedaton, Kompleks Keputren, Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Jumat (07/06/2013).
JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoFoto Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas didampingi putrinya, GKR Pembayun bersama sejumlah istri kerabat Keraton Ngayogyakarta dibantu abdi dalem keparak melaksanakan tradisi membuat kue apem dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X (peringatan naik tahta) di Bangsal Sekar Kedaton, Kompleks Keputren, Keraton Ngayogyakarta, Yogyakarta, Jumat (07/06/2013). JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto

Menjelang peringatan 24 tahun bertakhtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Kraton menggelar prosesi nusuk atau membuat apem.

Gerimis hujan membasahi tanah kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat (7/6) pagi. Di Pendapa Bangsal Sekar Kedaton, puluhan abdi dalem perempuan sibuk hilir mudik menyiapkan sebuah prosesi penting, nusuk atau membuat apem.

Nampak sebuah kuali besar berisi adonan apem sebanyak 3 kuintal sudah siap dimasak. Adonan tersebut kemudian dibagi ke puluhan sentono dalem (kerabat Kraton) dan abdi dalem yang duduk mengelilingi Bangsal Sekar Kedaton.

Sekitar pukul 09.18 WIB, Permaisuri Raja Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Hemas tiba dengan membawa payung. Hemas mengenakan kebaya warna hijau muda, didampingi putri sulungnya, GKR Pembayun yang berkebaya ungu. Disusul GKR Tjondrokirono, GKR Maduretno, GKR Bendoro, BRAY Abra dan BRAY Joyo Kusumo.

Setelah tiba, prosesi pembuatan dimulai. Hemas duduk bersimpuh di depan tiga tungku api di depannya. Seorang abdi dalem, dengan sigap melayani dan menyiapkan peralatan.

Bara api dari arang sudah menyala. Hemas kemudian mengambil menyan. Setelah berdoa, menyan tersebut pun dimasukkan ke dalam tungku yang sudah menyala. Nyala api pun membesar ditambah asap mengepul mengelilingi tubuh sang permaisuri. Hal sama dilakukan pada dua tungku lainnya.

Tangan kanannya kemudian mengaduk adonan apem yang sudah disiapkan. “Waah, iki kekentelan ora?” kata Hemas kepada para abdi dalem.

“Opo dicobo siji sek?” katanya sambil memasukan satu centong adonan ke dalam cetakan. “Jaluk banyu, kekentelen iki,” pinta Hemas.

Setelah itu proses pembuatan diikuti putri Hemas dan kerabat lainnya.
Menurut Mas Lurah Raharjo Guritno, dari Tepas Tandha Yekti atau Pusat Informasi Kraton, apem yang dibuat ada dua bentuk.

Yakni apem kecil dan apem mustoko. Apem mustoko jumlahnya dibuat seukuran tinggi Sultan sedangkan apem kecil menyesuaikan adonan habis.

“Apem itu diambil dari bahasa Arab, afuwun yang artinya meminta maaf. Itu menjadi simbol ungkapan syukur dan mohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik selama prosesi tingalan maupun selama Sultan memimpin,” ujar Raharjo kepada Harianjogja.com.

Persiapan prosesi Tingalan tersebut, katanya, sebenarnya dimulai sejak Kamis (6/6) lalu. Prosesi diawali dengan membuat adonan kue apem (ngebluk), kemudian memasak apem (nusuk) pada Jumat. Setelah apeman, lanjutnya, prosesi inti Tingalan dilaksanakan pada Sabtu (8/6/2013) di Bangsal Kencana.

“Itu acara puncak Tingalan, dimana para abdi dalem dan kerabat kerajaan mendoakan sang Raja. Sebelum dilaksanakan Labuhan keesokan harinya dimulai dari Bangsal Widiyo Budoyo,” katanya.

Labuhan sendiri digelar pada Minggu (9/6/2013) di tiga tempat, baik di Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Ndlepih di Gunung Lawu.

Karena prosesi Tingalan berbarengan dengan peringatan Isra Miraj, Kraton juga menggelar prosesi Yasa Peksi Buraq. Prosesi tersebut merupakan peringatan Isra Miraj oleh Kraton setiap bulan Rejeb atau Rajab. Ritual tersebut digambarkan dengan simbol dua ekor burung sebagai buraq- jantan dan betina – yang konon berada di taman surga.

Menurut perhitungan kalender Jawa, Sri Sultan HB X naik takhta pada 29 Rejeb tahun Klawu 1921 atau bertepatan dengan 7 Maret 1989. Adapun peringatan 24 tahun naik takhta jatuh pada 29 Rejeb Jimakir 1946 atau bertepatan dengan 8 Juni 2013.

 

Editor: | dalam: Kota Jogja |
Iklan Baris
  • Buka usaha kebab/ burger

    Buka usaha kebab/burger 9jutaan dapat grobak peralatan+kulkas+karyawan+tempat depan Indomaret hasil lebih dari…

  • Dijual griya asri pratama

    Griya Asri Pratama-SP Huni-Ngaglik Sleman-T36/96 T36/104 T45/96 T45/102 T54/232-SHM,IMB Dekat UII/Waterboom Ha…

  • Pelaksana bangunan

    Anda Mau Bangun Rumah Percayakan Kami CV DINAR. 0818253099. DaPat Bonus Asuransi Dana Pensiunan Anda Senilai P…

  • sulit pinjam uang dibank?

    Anda Sulit Pinjam Uang Di Bank, Kami Siap Bantu Minimal 50juta. Hubungi: 0877 3826 5553…

  • butuh kapster salon

    Aracelly Djanti melayani Perawatan Rambut/Kulit Terowongan Jembatan Paling selatan,baratnya Pas. 087838443736,…

  • Rumah dijual dekat bandara

    Jual Cepat Rumah LT 120m2 Lokasi PERUM, 5 Menit dari Bandara Adisucipto 2KM 2KT Garasi 2Mobil,Dapur,R.Tamu,Kol…

  • Servis HP all merk : Metro phone cell

    Servis HP, Nokia, BB, Sony, Samsung, IPhone,dll. Mati total, Hard/Software. Hubungi: Metrophone jl.monjali 92/…

  • Dibutuhkan karyawan konter HP

    Dibutuhkan Langsung Kerja 3 Orang SPB Konter HP. Co Min SMA,Sholat,Jujur,Tekun.Lamaran Tulis Tangan kirim Berg…

  • Rumah dijual disuryowijayan

    Dijual rumah 238m2 Sertifikat jl.S.Parman RW 1 RT1 No.8 Suryowijayan Telpon.08158945787, 081807203429…

  • Suzuki esteem

    Esteem 1.3 Tahun95 C.Lock,P.Stir,P.Win Harga.39juta Hubungi: 085729835909…



Iklan Baris
  • RUMAH DIKONTRAKKAN

    Rumah Dikontrakkan,LT 254M2,LB 225M2,7Kmr,3K Mandi, Garasi, Jl.Kencur No.48, Rt 03/11, Kagokan, Pajang, Laweya…

Menarik Juga »