Jogja
Kamis, 19 Desember 2013 - 12:11 WIB

Cerita Kuburan Dua dari Pasaman Dipentaskan di ISI Jogja

Redaksi Solopos.com  /  Nina Atmasari  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Pentas Tubuh Kata Kuburan Dua yang berlangsung di lapangan depan gedung Rektorat Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, Jl. Parangtritis, Sewon, bantul, Selasa (17/12/2013) malam. (JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto)

Harianjogja.com, BANTUL–Kuburan dua adalah sebuah cerita kisah nyata yang pernah terjadi pada pasca kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kisah itu mengisahkan dua orang manusia yakni orang Batak dan Minang yang tengah berburu mencari hewan.

Sayangnya, sebelum mendapatkan hewan buruan, keduanya justru bertengkar soal pembagian hasil buruan. Pertengkaran terjadi karena keduanya salah komunikasi karena masing-masing memiliki bahasa berbeda.

Advertisement

Akibat perseteruan itu, keduanya akhirnya meninggal. Oleh warga yang menemukan keduanya kemudian dikubur secara bersamaan di kuburan yang kemudian diberi nama Kuburan Dua.

Kisah tersebut diangkat di panggung teater oleh Roci Marciano dalam pementasan bertajuk Tubuh Kata Kuburan Dua yang berlangsung di lapangan depan gedung rektorat Institut Seni Indonesia (ISI), Jl. Parangtritis, Sewon, Bantul, Selasa (17/12/2013) malam.

Tubuh Kata Kuburan Dua menurut Roci tidak hanya menceritakan soal konflik yang terjadi dua orang asal Batak dan Minang, namun juga menjadi sebuah perenungan terkait berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini.

Advertisement

“Pemilihan presiden saja belum dimulai tapi antara elite parpol sudah saling berseteru. Harusnya mereka sama mengendalikan diri. Jangan seperti dua tokoh dalam Tubuh Kata Kuburan Dua yang mati karena menuruti hawa nafsu mereka,” katanya.

Menariknya, dalam pentas ini, Roci mengemasnya menjadi teater tubuh, yakni gerakan dasarnya berasal dari pencak silat Pasaman yang dikombinasikan dengan gerak tubuh lainnya seperti tari balet, ataupun capoeira.

“Pencak silat sengaja saya pilih karena itu merupakan seni warisan dari Pasaman. Kalaupun saya mengombinasikan dengan tari lainnya, itu untuk saling mengisi saja,” katanya.

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif