Jogja
Senin, 9 Januari 2023 - 23:30 WIB

Dosen UGM Ciptakan Melon Seukuran Apel, Namanya Hikapel

Anisatul Umah  /  Abdul Jalil  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Konferensi pers melon Hikapel di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1/2023). - Harian Jogja/Anisatul Umah

Solopos.com, SLEMAN — Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Budi Setiadi Daryono membuat inovasi dengan menciptakan buah melon berukuran kecil, seperti apel. Melon hasil kreasinya itu hanya memiliki berat antara 250 hingga 300 gram per buah.

Melon seukuran apel yang diberi nama Hikapel ini mempunyai kandungan vitamin C dan vitamin A. Selain itu, Hikapel ini juga memiliki kandungan beta karoten tinggi yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti wortel.

Advertisement

Budi menceritakan Hikapel yang lahir pada 2012 lalu itu memiliki makna mendalam baginya, yaitu karena bertepatan dengan lahirnya buah hatinya yang bernama Fadhil Hikari Setiadi.

Nama Hikapel sendiri merupakan berasal dari nama anaknya, Hika. Sementara karena bentuk melon yang diteliti itu bentuknya mirip apel, maka diberi nama Hikapel.

Advertisement

Nama Hikapel sendiri merupakan berasal dari nama anaknya, Hika. Sementara karena bentuk melon yang diteliti itu bentuknya mirip apel, maka diberi nama Hikapel.

Melon berukuran apel ini bermula dari keluhan emak-emak. Buah melon pada umumnya memiliki ukuran besar dan itu memberatkan para emak-emak.

“Ada banyak keluhan dari ibu-ibu yang saya sebut emak-emak. Melon yang besar memang memberatkan. Kemudian mereka membuat challenge [mengecilkan ukuran] meski melon saya sebelumnya sudah enak,” ucapnya saat konferensi pers di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1/2023).

Advertisement

Masa tanam melon ini sekitar 60 hari dan jika menggunakan hidroponik dibutuhkan waktu 65 hari. Perkiraan ini untuk penanaman di dataran rendah. Penanaman melon di dataran tinggi masa panennya akan lebih lama lagi.

“Saya pernah nyoba tanam di Pangalengan dan hasilnya lain, kalau high land 1.500-2.000 [mdpl] akan menjadi cukup lama ada tambahan 20-25 hari. Menjadi 80-85 hari baru bisa panen,” jelasnya.

Produk melon menengah premium ini dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram (kg). Per kg berisi sekitar tiga sampai empat buah melon.

Advertisement

Dia mengatakan kendala penanaman melon adalah perubahan iklim. Perubahan iklim membuat petani yang selama ini berpatokan pada musim menjadi susah. Musim kemarau ternyata hujan, dan musim hujan kadang malah kering.

Selain itu, hama dan penyakit juga menjadi hambatan. Indonesia negeri yang subur, namun juga subur hama dan penyakit.

“Ini problemnya, sehingga kami pakai green house. Sebelumnya enggak pernah sebelum 2015. Kami bingung ini musim hujan panas, ini musim kemarau hujan deras.”

Advertisement

Salah satu warga Sleman, Candra, 28, mengaku suka dengan Hikapel ini, karena rasanya yang manis. Juga ukurannya yang mungil membuat melon ini mudah dibawa bepergian. “Saya suka dengan rasanya yang manis.”

Berita ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul Dengar Curhatan Emak-emak, Dekan UGM Buat Melon Seukuran Apel

 

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif