SOLOPOS.COM - Sejumlah petani di Dusun Gelaran I, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo sedang memperbaiki lahan persawahan pasca rusak disapu banjir, Selasa (12/12/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi)

Akibat Badai Cempaka beberapa waktu lalu ada ratusan hektare lahan tanaman pangan yang mengalami gagal panen

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Akibat Badai Cempaka beberapa waktu lalu ada ratusan hektare lahan tanaman pangan yang mengalami gagal panen. Kerugian yang diderita petani ditaksir hingga Rp3,3 miliar, tetapi karena tak memiliki asuransi banyak petani yang akhirnya gigit jari.

Promosi Komeng Tak Perlu Koming, 5,3 Juta Suara sudah di Tangan

Seorang petani di Dusun Gelaran I, Desa Bejiharjo Sutarno merupakan salah satu petani yang harus menanggung kerugian akibat banjir yang disebabkan Badai Cempaka.

Sawah seluas 700 meter persegi miliknya yang telah ditumbuhi padi berusia dua pekan ludes terhempas banjir. Biaya pengeolahan tanah, bibit hingga pupuk sekitar Rp5 juta harus ia relakan.

“Saya enggak punya asuransi, dulu pernah ditawari asuransi tapi belum tahu manfaatnya. Sekarang ya menyesal karena karena dulu tidak ikut,” kata dia Selasa (12/12/2017).

Sutarno mengaku pada awal musim tanam lalu ia mendapatkan sosialisasi bersama dengan ratusan petani yang tergabung dalam kelompok tani  Sari Bumi terkait asuransi usaha tani padi (AUTP). Namun dari ratusan anggota termasuk dirinya pada waktu itu belum tertarik dengan adanya asuransi yang mengahrusnya membayar premi Rp36.000 per hektare.

“Sekarang ada bencana begini baru terasa menyesal. Di kelompok tani saya sebagai seksi infomasi, dulu saya sudah informasikan tapi saya malah ditertawakan banyak orang karena mengansuransikan tanaman seperti manusia,” ungkapnya.

Namun pasca bencana, saat ini banyak yang mulai menyadari  tentang pentinya asuransi. Karena dampak dari bencana sangat membawa kerugian bagi petani. Selain puluhaan lahan gagal panen, di Dusun Gelaran I ada juga beberapa hektare sawah yang terkis hingga mengilangkan lapisan tanah.

Hal itu terjadi di salah satu lahan milik Sarino yang  sawahnya  tersapu banjir hingga lapisan tanah 1,5 meter hilang dan tinggal batuan padas tidak bisa lagi ditanami. “Saat ini kami bingung dan tidak bisa berbuat apa,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya