Jogja
Jumat, 1 Februari 2013 - 16:00 WIB

Gelar Khalifatullah Ganjal Sultan Perempuan

Redaksi Solopos.com  /  Esdras Ginting  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi/dok

Ilustrasi/dok

JOGJA—Pengamat Politik J Kristiadi memandang gelar Khalifatullah Sultan tak perlu dimasukkan dalam Rancangan Peraturan Daerah Kestimewaan. Selain rawan menimbulkan konflik kepentingan, gelar tersebut sama saja menghilangkan kesempatan Sultan perempuan.

Advertisement

Menurut Peneliti Center for Strategic of International Studies (CSIS), gelar Sayidin Panatagama Khalifatullah yang diperoleh dari berbagai literatur diartikan bahwa Sultan itu adalah pengatur Wakil Allah yang mengatur kehidupan beragama.

“Tapi begini, kalau interpretasi itu dibelak- belok jadinya susah. Karena itu, meski berkaitan dengan sejarah, biarlah tetap memakai Sultan Hamengku Buwono saja tanpa kemudian memberikan kesempatan peluang kekisruhan dalam masyarakat,” jelas Kristiadi usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat Konsultasi dan Implementasi Undang-Undang Keistimewaan DIY No13/2012, di Gedung DPRD Jumat (1/2/2013).

Dengan dimasukan gelar itu, menurutnya, juga akan menyulitkan Sultan untuk mewariskan tahtahnya pada anak perempuannya.”Sultan juga punya anak perempuan. Kalau pakai itu, anak perempuan tidak bisa,” ujarnya.

Advertisement

Kendati begitu, Kristiadi mengaku tidak terlalu mengetahui detail bagaimana selanjutnya paugeran Kraton mengatur perihal Sultan perempuan. Pasalnya, sejauh ini belum pernah terjadi Kraton Ngayogyakarta dipimpin Sultan perempuan.

Namun baginya, Kraton semestinya dapat memberikan penghargaan yang sangat baik pada perkembangan modernitas terkait kesetaraan perempuan dan laki- laki.”Kraton seharusnya bisa mempelopori. Bahkan dengan begitu, Kraton akan semakin dihargai di dunia karena tidak mempermasalahkan laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif