SOLOPOS.COM - Ilustrasi gempa bumi (JIBI/Solopos/Dok.)

Gempa bumi rawan terjadi di DIY. Dalam menghadapi bencana ini, masyarakat diimbau tidak panik.

Harianjogja.com, SLEMAN– Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan daerah yang rawan terjadi gempa bumi, namun masyarakat tidak perlu panik jika menghadapi bencana itu, kata seorang pejabat setempat.

Promosi Mabes Polri Mengusut Mafia Bola, Serius atau Obor Blarak

Kepala Seksi Observasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Bambang Subagyo, mengatakan gempa bumi memang sampai saat ini belum bisa diprediksi kapan akan terjadi, namun masyarakat harus tahu bagaimana mensikapinya.

“Wilayah DIY sangat berpotensi terjadi gempa bumi. Baik sumbernya dari laut, karena ada lempengan di Samudera Hindia, antara Australia dengan Pulau Jawa serta sumber gempa di darat, yaitu patahan Sungai Opak dan Oya,” katanya, Sabtu (11/4/2015)

Menurut dia, yang paling berpotensi dan berbahaya yaitu gempa yang sumbernya dari lempengan di laut selatan.

“Dengan potensi yang besar ini, sering muncul informasi-informasi yang tidak bertanggung jawab yang justru dapat menimbulkan kepanikan di masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan, pascagempa besar 27 Mei 2006 masyarakat sangat sensitif ketika muncul informasi bencana gempa bumi.

“Selain ada kekhawatiran terjadi tsunami, atau trauma gempa besar pada 2006 yang mengakibatkan ribuan orang menjadi korban, juga ada Gunung Merapi. Biasanya dikait-kaitkan. Seperti 2006 terjadi gempa besar ada yang disangkutkan dengan aktivitas gunung Merapi,” katanya.

Bambang mengatakan, ketika masyarakat panik, maka bisa saja dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Misal saja, langsung mengungsi dan meninggalkan hartanya tanpa pengawasan.

“Kondisi seperti itu bisa dimanfaatkan orang-orang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak kejahatan atau sejenisnya,” katanya.

Ia menyarankan, agar ketika mendapatkan info yang belum jelas, segera melakukan konfirmasi ke pihak berwenang, dalam hal ini memang BMKG Yogyakarta.

“Lebih baik langsung menghubungi kami. Masyarakat bisa telepon ke nomor 6498383,” katanya.

Gempa tektonik yang biasa terasa, kata dia, selama ini tidak ada kaitannya dengan aktivitas Gunung Merapi. Juga, ketika terjadi bencana jenis ini dan sumbernya dari laut selatan, tidak akan menimbulkan tsunami jika kedalaman lebih dari 60 kilometer dan berkekuatan kurang dari 7 skala Richter (SR).

“Aktivitas Merapi, gempa yang terasa tak akan sampai lebih dari dua kilometer dari kawasan puncaknya. Karena sangat kecil. Sedangkan ketika terjadi gempa, yang bisa menyebabkan tsunami jika kekuatannya lebih dari 7 SR,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya