Jogja
Rabu, 30 Maret 2016 - 00:40 WIB

INSPEKSI MENDADAK : Tiga Sipir Lapas Wirogunan Positif Gunakan Obat Penenang

Redaksi Solopos.com  /  Sumadiyono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi narkoba (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Dalam sidak tersebut, semua sipir lapas dites urine, termasuk kepala lapas.

 

Advertisement

 

Harianjogja.com, JOGJA-Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) DIY melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Jogja atau Lapas Wirogunan, Selasa (29/3/2016). Dalam sidak tersebut, semua sipir lapas dites urine, termasuk kepala lapas.

Sidak yang dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB itu langsung dipimpin Kepala Kanwil Kemenkum HAM DIY. Dalam pemeriksaan urine diketahui tiga sipir positif mengkonsumsi obat penenang.

Advertisement

Kepala Lapas Wirogunan Zaenal Arifin saat dimintai konfirmasi membenarkan sidak yang dilakukan Kanwil Kemenkum HAM DIY tersebut, “Tiga orang yang positif sedang didalami,” kata dia melalui pesan singkat selular.

Zaenal mengaku sudah mengkonfirmasi terhadap tiga anak buahnya yang terdeteksi mengkonsumsi obat penenang tersebut dikarenakan minum obat. Namun pihaknya masih akan menunggu hasil pemeriksaan dari Kanwil Kemenkum HAM.

Zaenal mengaku sempat terkaget dengan adanya sidak dari Kepala Kanwil Kemankum HAM itu. Ia bahkan datang ke Lapas telat atau setelah ada Kepala Kanwil Kemenkum HAM yang memimpin apel pagi. Selesai apel, sebanyak 97 orang yang terdiri dari staf dan regu jaga dan pengamanan narapidana tiba-tiba dilarang meninggalkan lokasi apel. “Semua dites urine dulu,” ujar Zaenal.

Advertisement

Tes urine ini tidak melibatkan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY. “Itu kegiatan Kemenkum HAM, bukan dari BNNP,” ujar Kepala BNNP DIY Komisaris Besar Polisi Soetarmono.

Sebelumnya, BNNP DIY juga merazia narkoba di Lapas Kelas II A Sleman atau Lapas Cebongan pada Sabtu (19/3/2016). Namun razia gabungan bersama Kanwil Kemenkum HAM DIY dan TNI itu tidak membuahkan hasil. Bahkan, menurut Soetarmono, satu alat komunikasi pun tidak didapatkan yang biasanya dapat tiap razia.

Soetarmono pun merasa janggal dengan razia tersebut. Ia menduga razia sudah bocor duluan. “Razia dimungkinkan bocor, untuk diketahui sebagai pembelajaran masyarakat jangan smpai menuduh BNNP ada main,” tegas dia.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif