SOLOPOS.COM - Kepala Bulog Divisi Regional (Divre) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sugit Tedjo Mulyono memantau petugas yang menurunkan raskin untuk di didistribusikan pada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) di Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Rabu (24/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, masalahan kemiskinan menjadi penghambat untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri

Harianjogja.com, SLEMAN– Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, masalahan kemiskinan menjadi penghambat untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri. Hal itu mendasari pemerintah menjadikan penanggulangan kemiskinan sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan daerah.

Promosi Strategi Telkom Jaga Jaringan Demi Layanan Telekomunikasi Prima

Pasalnya, angka kemiskinan di Sleman tergolong tinggi. Berdasarkan data 2016 tercatat sebanyak 19,69% atau 37.284 KK miskin di Sleman. Jumlah tersebut belum termasuk keluarga yang rentan miskin.

Berdasarkan data yang ada, jumlah penerima manfaat beras sejahtera (rastra) di Sleman sebanyak 66.534 KK. Sementara keluarga yang masih tinggal di rumah berdiding kayu berkualitas rendah sebanyak 2.237 KK. Tercatat juga, sebanyak 8.000 KK belum menggunakan listrik dan 4.500 KK belum menggunakan jamban.

“Kami menargetkan angka kemiskinan bisa turun menjadi 9,35 persen pada 2018 atau turun 0,67 persen per tahun,” katanya,  Selasa (11/7/2017).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya