Jogja
Rabu, 9 November 2016 - 06:40 WIB

MASALAH LINGKUNGAN SLEMAN : Warga Pendem Keluhkan Asap Pabrik Aspal

Redaksi Solopos.com  /  Sumadiyono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - SEKOLAH PAKAI MASKER

Asap tesebut selain membawa debu hasil pembakaran aspal, juga memiliki aroma tidak sedap.

Harianjogja.com, SLEMAN– Asap menyengat yang keluar dari cerobong pabrik aspal (PT Perwita Karya) Tegalyoso, Piyungan, dikeluhkan Warga Dusun Pendem, Tegaltirto, Berbah, Sleman. Asap tesebut selain membawa debu hasil pembakaran aspal, juga memiliki aroma tidak sedap.

Advertisement

Menurut salah seorang warga Pendem, Ongko S. Wanto, akibat masalah tersebut warga mengalami sesak nafas. Pasalnya, mereka selalu menghirup asap dari pabrik aspal hotmix itu. “Kalau sudah dua cerobong yang digunakan, asapnya makin tebal. Lusa, mereka menggunakan satu cerbong, tadi (kemarin) dua cerobong,” kata Ongko kepada Harian Jogja, Selasa (8/11).

Menurutnya, warga sebenarnya sudah mengeluhkan kejadian tersebut sejak dua tahun lalu. Namun tidak ada yang berani memprotesnya. Ongko juga mengakui, dua tahun lalu pernah dilakukan mediasi terkait masalah tersebut. Mediasi bahkan melibatkan pemerintah Bantul dan Pemda DIY. “Tapi sampai saat ini kasusnya masih sama. Pabrik pernah berjanji akan mengirimkan dokter secara rutin,” katanya.

Sayangnya, janji tersebut belum terwujud. Padahal masalah tersebut terkait dengan kesehatan warga. Dia menilai, apa yang dilakukan oleh pabrik aspal tersebut bukan sebuah solusi. Terbukti, asap pekat dari pabrik terus mencemarkan kualitas udara setiap jam operasional. “Yang diinginkan warga udara bersih. Kami juga menuntut agar pabrik itu memperbaiki sistem pengolahan limbah. Sampai saat ini, janji-janji itu belum terealisasi,” katanya.

Advertisement

Menurut Ongko, warga menuntut agar komitmen perusahaan membuat pengolahan limbah yang tidak mencemari udara bisa diwujudkan. Hal itu bisa dilakukan dengan memfilter asap sebelum keluar melalui cerobong. Sehingga partikel-partikel bahan baku aspal tidak sampai pemukiman warga.

“Kami akan membicarakan masalah ini dengan seluruh warga sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya.
Hal senada disampaikan warga Dusun Pendem lainnya, Wartiningsih. Setiap kali pabrik beroperasi, halaman rumahnya dipenuhi dengan debu pasir dari pabrik. Selain itu, bau menyengat juga tercium dari pabrik tersebut. “Kalau musim kemarau tambah parah, debu-debu beterbangan. Cucu saya sempat batuk dan sesak nafas,” katanya.

Menurutnya, asap pabrik yang memenuhi Dusun Pendem memang tergantung arah angin bertiup. Jika angin bertiup dari Selatan ke Utara bisa dipastikan, asap pabrik menyelimuti dusun tersebut. Sayangnya, warga tidak bisa berbuat banyak karena lokasi pabrik berada di wilayah Bantul. Warga berharap agar pemerintah segera memberikan solusi terkait masalah itu.

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif