SOLOPOS.COM - Pantai Congot (Arif Wahyudi/JIBI/Harian Jogja)

Letak geografis Kulonprogo tepat di tepi Samudra Hindia menjadikan wilayah itu dianugerahi objek wisata pantai. Sayang, dari sejumlah objek wisata itu hanya Pantai Glagah yang masih menggeliat. Pantai Congot menjadi salah satu objek wisata bahari yang mulai mati suri. Berikut laporan Wartawan Harian Jogja, Arif Wahyudi.

Pantai Congot berada berada di Desa Jangkaran, Kecamatan Temo atau wilayah paling barat Kulonprogo. Bergerak maju sedikit sudah Purworejo, Jawa Tengah.

Promosi Skuad Sinyo Aliandoe Terbaik, Nyaris Berjumpa Maradona di Piala Dunia 1986

Sebuah tugu keluarga berencana (KB) tepat di pertigaan Jalan Daendels, Desa Jangkaran menjadi pintu masuk bagi pengunjung yang hendak menuju Congot.
Papan nama penunjuk ke arah objek wisata hanya berukuran kecil sehingga menyulitkan wisatawan yang baru pertama kali berkunjung. Harus melajukan kendaraan pelan-pelan agar tidak terlewati ketika sudah saatnya berbelok ke arah pantai.

Jalan menuju objek wisata tidak terlalu besar. Ukurannya tak ubahnya seperti jalan kampung, cuma agak lebar sedikit dan beraspal hotmit.
Jarak antara Jalan Daendels dengan pantai hanya sekitar 1,5 kilometer.

Namun jika hari biasa, jangan heran ketika Anda tidak menemukan tempat pemungut retribusi (TPR). Sebenarnya ada TPR, sebelum sampai ke pantainya. TPR berada di sisi kiri jalan dari arah utara.

Tidak menggeliatnya jumlah pengunjung menyebabkan TPR memilih tutup pada hari-hari biasa. Petugas akan rutin menarik retribusi dan menggelar lapak tiketnya kembali ketika hari Minggu atau hari libur lainnya.

Jadi, Anda yang mengunjungi Pantai Congot pada saat hari biasa bisa saja gratis, alias tidak perlu berhenti membayar pungutan retribusi. Kecuali jika menggunakan bus mungkin petugas tetap akan menarik retribusi mengingat penarik tiketnya hanya warga lokal.

Tutupnya TPR pada hari-hari biasa memperjelas kesan, Congot semakin mati suri. Jauh dibandingkan potensi menggeliat yang dialami objek sebelah timurnya, yakni Pantai Glagah yang selalu ramai kunjungan.

Padahal ada potensi menggeliat yang terlihat di Congot menghadirkan sebuah keunikan wisata bahari.

Dari kejauhan, perahu-perahu nelayan yang diparkir menghadirkan sebuah suasana elok. Hembusan angin pantai membuat dan deburan pantai memberikan sensasi keindahan alam sebagai satu anugrah dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Pantai Congot juga termasuk objek wisata yang teduh. Sekitar 100 meter dari bibir pantai ada hutan mangrove yang membuat pantai jadi sangat teduh. Pengunjung sekaligus dapat memanfaatkan tempat-tempat istirahat yang bertebaran di sekitar hutan mangrove.

Melepas penat di tempat istirahat itu sembari memandangi deburan ombak merupakan suguhan yang bisa menjernihkan pikiran. Sayang semuanya itu tidak cukup untuk membuat Congot tampil menggeliat.
Pengunjung tetap saja sepi.

“Sebenarnya pantai ini bagus, tapi sayang suasanya sepi. Padahal potensi alamnya bagus, terutama kalau sore,” papar Nilam, 22, pengunjung asal Purworejo saat mengunjungi Pantai Congot, beberapa waktu lalu.

Selain potensi alam, Congot juga menyajikan kuliner khas. Kuliner ikan bakar dari beragam jenis ikan bisa dengan mudah didapatkan. Sejumlah warung menyediakan ikan segar untuk dimasak bakar atau goreng tergantung selera pembeli.

Seiring hadirnya proyek bandara, Congot berpotensi semakin mati. Pemkab Kulonprogo tidak akan melakukan pembangunan sarana fisi di semua pantai di wilayah itu. Tujuannya agar tidak mengganggu konsenstrasi menitikberatkan pembangunan bandara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya