Jogja
Sabtu, 19 Juli 2014 - 13:42 WIB

Paska Abrasi, Disbudpar Akan Bersih-Bersih Pantai Baron

Redaksi Solopos.com  /  Mediani Dyah Natalia  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Kondisi Pantai Baron yang kotor setelah terkena abrasi, Selasa (15/7/2014) (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja).

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Paska-abrasi di Pantai Baron, Kemadang,Tanjungsari, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul akan melakukan pembersihan pantai dari sampah.

Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Disbudpar Gunungkidul A Hary Sukmono menuturkan paska abrasi, Pantai Baron tampak kotor terutama area pasir. Pasalnya sampah yang selama ini dikubur muncul ke permukaan setelah terhantam ombak tinggi beberapa waktu lalu.

Advertisement

“Entah sampah yang dikubur itu datang dari mana. Harus dibersihkan apalagi ini menjelang Lebaran,” ujar dia, Jumat (18/7/2014).

Hary menuturkan ia akan mengerahkan tenaga kebersihan harian lepas di Pantai Baron (delapan personil) bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Pantai Baron. Hary menambahkan area pasir Pantai Baron harus bersih sebelum Lebaran.

“Kami sudah mulai dalam aksi Jumat Bersih. Aksi ini akan kami lakukan lagi minggu depan. Kami mengimbau agar kebersihan pantai terus dijaga untuk kenyamanan pengunjung,” imbuh dia.

Advertisement

Mengenai kondisi pasir yang terkena abrasi, Hary mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena peristiwa tersbeut merupakan kehendak alam. Menurut dia alam tengah melakukan penataan kembali Pantai Baron.

Wakil Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Sukamto menuturkan tenaga manusia tidak akan mampu untuk memindahkan pasir dalam waktu cepat. Wajah Pantai Baron yang berubah-ubah tersebut merupakan hasil karya alam.

“Sungainya kadang sampi utara, kadang lewat barat, kadang dalam dan kadang dangkal,” ujar dia.

Advertisement

Ketika musim penghujan, sungai cenderung dalam karena pasir yang tertimbun di aliran sungai terdorong oleh arus sungai yang deras. Sehingga ombak yang datang menggulung sambil membawa pasir masih kalah dengan arus sungai.

Sebaliknya, ketika musim kemarau, arus sungai tidak sederas ketika musim penghujan. Hal tiu mebuat pasir yang terbaawa ombak menimbun sungai sehingga menjadi dangkal. “Kuncinya ada di debit air sungai dan kekuatan gelombang,” ujar dia.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif