Jogja
Minggu, 15 Maret 2015 - 00:20 WIB

PEMKAB SLEMAN : Akhirnya, Relawan BPBD Akan Diasuransikan

Redaksi Solopos.com  /  Mediani Dyah Natalia  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memasang dua Early Warning System (EWS) di Dusun Gunungharjo, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Selasa (13/1/2015). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.)

Pemkab Sleman melalui BPBD Sleman akan mengansurasikan relawan.

Harianjogja.com, SLEMAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman akan memberikan jaminan perlindungan berupa asuransi kepada setiap relawan yang membantu dalam penanggulangan bencana.

Advertisement

“Diharapkan dengan adanya jaminan tersebut, relawan nantinya bisa lebih optimal, dan gerakannya bisa
terkoordinir dengan baik ketika terjadi suatu bencana,” kata Kepala Seksi Operasional dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Sleman Nugroho Utomo, Jumat (13/3/2015).

Menurut dia, fasilitas asuransi kesehatan maupun jiwa tersebut, sampai saat ini belum didapatkan oleh
teman-teman relawan.

Advertisement

Menurut dia, fasilitas asuransi kesehatan maupun jiwa tersebut, sampai saat ini belum didapatkan oleh
teman-teman relawan.

“Padahal para relawan ini ketika berhadapan dengan bencana atau dalam melakukan evakuasi, risikonya cukup tinggi,” katanya.

Ia mengatakan, atas dasar kondisi tersebut pihaknya berencana untuk memberikan jaminan perlindungan asuransi kepada para relawan bencana.

Advertisement

Nugroho mengatakan, dalam pendataan yang dilakukan sementara ini di Sleman ada 52 komunitas relawan.
Namun, hanya 38 saja yang benar-benar aktif.

“Dari 38 itu, dua diantaranya baru masuk data di BPBD Sleman awal Maret ini,” katanya.

Ia mengatakan, sebanyak 38 komunitas tersebut relawan, terdiri dari 1.441 orang yang sudah masuk. Namun, angka ini masih akan bertambah lagi, karena belum selesai dalam pendataannya.

Advertisement

“Setelah selesai pendataan, kemudian mereka akan diseleksi. Yang tersaring nantinya benar-benar orang yang memang bisa digerakkan ketika ada suatu bencana. Kalau kerjaannya hanya main ‘brik-brikan’ (handy talky/HT) ya buat apa didata. Kami ingin relawan yang benar-benar ada dan bisa digerakkan. Jadi, mungkin nanti bisa 1.500-an relawan, yang tersaring hanya 1.000 saja,” katanya.

Setelah didapatkan data resminya, kata dia, selanjutnya akan diajukan juga ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selain agar bisa mendapatkan pelatihan yang optimal, juga mempunyai nomor register dan tercatat sebagai relawan Indonesia.

“Setelah itu diajukan anggaran ke Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sleman, untuk diberikan asuransi kepada mereka. Jadi, ketika terjadi sesuatu menimpa relawan ketika membantu suatu bencana, tidak akan terlalu kebingungan siapa yang menjadi tanggungjawabnya,” katanya.

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif