Jogja
Jumat, 2 September 2016 - 12:55 WIB

PENAMBANGAN KALI PROGO : Warga Banaran Ingin Izin Penambangan Pasir Dikaji Ulang

Redaksi Solopos.com  /  Nina Atmasari  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ratusan warga Desa Banaran, Kecamatan Galur mendatangi Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Kulonprogo, Kamis (1/9/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)

Penambangan Kali Progo di wilayah banaran Galur Kulonprogo dikeluhkan

Harianjogja.com, KULONPROGO-Warga Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kulonprogo meminta Pemkab Kulonprogo mengkaji kembali dan mencabut izin penambangan pasir di aliran Sungai Progo. Warga menganggap aktivitas tersebut semakin meresahkan dan rawan konflik sosial.

Advertisement

Ratusan warga Banaran kemudian mendatangi  Kantor Lingkungan Hidup (KLH), Kamis (1/9/2016). Namun, mereka dihadang aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kulonprogo dan tidak diizinkan masuk ke lingkungan kantor.

Hanya beberapa perwakilan warga yang akhirnya diperbolehkan masuk untuk menyampaikan aspirasinya.

Advertisement

Hanya beberapa perwakilan warga yang akhirnya diperbolehkan masuk untuk menyampaikan aspirasinya.

Seorang tokoh masyarakat Banaran, Endro Purnomo mengatakan, saat ini ada dua perusahaan penambang pasir yang beraktivitas dengan alat berat di wilayah Banaran, yaitu PT GST dan PT PAS.

PT GST diketahui sudah beroperasi sejak beberapa bulan lalu dan relatif kondusif. Namun, belakangan ini muncul PT PAS yang disebut belum pernah melakukan sosialisasi kepada warga sekitar. Menurut Endro, sosialisasi hanya diberikan secara terbatas kepada warga yang bekerja di PT PAS saja.

Advertisement

Endro kemudian berharap izin PT PAS ditinjau kembali. Warga pun merasa terancam karena tekanan dari pihak perusahaan. Mereka dilarang melakukan aksi yang dianggap menganggu. “Kalau warga nekat, katanya bisa diancam pidana penjara,” kata Endro.

Kepala KLH Kulonprogo, Suharjoko mengungkapkan, izin penambangan telah menjadi kewenangan Pemda DIY. Pemkab Kulonprogo hanya bertugas memberikan rekomendasi terkait kajian lingkungan hidup.

Walau begitu, dia memastikan akan menyampaikan aspirasi warga kepada Pemda DIY. Jika memang tidak ada sosialisasi, perusahaan bisa memenuhi persyaratan itu untuk melengkapi berkas yang telah diajukan sebelumnya.

Advertisement

“Kami akan minta aktivitas penambangan dipending dulu, sembari melengkapi kelengkapan yang lain,” ucap Suharjoko.

Kepala Bidang Pertambangan Umum Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PerindagESDM) Kabupaten Kulonprogo, Mustapa Ali Mohamad pun menyatakan hal serupa.

Pemkab Kulonprogo bahkan sudah mempunyai fungsi pengawasan paska adanya pengalihan kewenangan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUP) dan ESDM DIY.

Advertisement

“Satu-satunya [kewenangan] masalah penambangan hanya dari sisi lingkungan hidup, yaitu di KLH,” ungkap dia.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif