Jogja
Senin, 19 Januari 2009 - 09:35 WIB

Penarikan minah bersubsidi harus ditunda

Redaksi Solopos.com  /  Budi Cahyono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

BANTUL : Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Bantul, Yahya meminta pemerintah pusat untuk menunda penarikan minah bersubsidi hingga Maret 2009.

Perajin Batik yang banyak tersebar di Bantul sangat membutuhkan minyak tanah untuk proses produksi. Banyaknya perajin yang menggunakan bahan bakar kayu menjadi pertimbangan khusus permintaan penundaan. Selain itu, masyarakat Bantul saat ini memang belum siap menggunakan gas elpiji.

Advertisement

“Kami harap pusat lakukan pengunduran, perajin sangat butuh minah,” ujarnya saat dihubungi Harian Jogja kemarin.

Untuk itu, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan Pertamina agar mengakomodir tuntutan semua perajin. Sayangnya, hingga saat ini Pertamina belum memberitahukan informasi secara resmi tentang waktu penarikan. “Kami akan segera koordinasikan, kalau bisa ditunda hingga warga Bantul siap,”imbunya.

Wakil Ketua Hiswana, Siswanto menyebutkan penarikan minah  bersubsidi di Bantul kemungkinan besar dilakukan pada akhir Januari. Sehingga minah non subsidi akan segera beredar di Bantul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang masih tergantung pada minah. Harga minah non subsidi berkisar antara Rp7.000 per liter. “Tentunya pasokan tercukupi, agen tinggal pesan ke pangkalan,” katanya.

Advertisement

Sementara itu, Sri Lestari, pengusaha Batik Sido Mukti mengatakan keberatan jika minah bersubsidi ditarik dalam waktu dekat.  Penggunaan gas elpiji menurutnya menyulitkan proses produksi, kekhawatirannya membawa masalah pada semua perajin. “Pemerintah mesti berpikir ulang, kalau memang ditarik harus ada solusi,” tukasnya saat dihubungi Harian Jogja kemarin.

Perajin juga mengeluhkan minimnya sosialisasi penggunaan kompor gas oleh Pertamina. Kondisi tersebut membuat warga semakin cemas. “Sosialisai kurang, kami khawatir malah membuat pekerja takut pakai kompor gas,” cetusnya.

Imbas krisis global lanjutnya membawa dampak besar bagi kelangsungan usaha perajin. Harga minah non subsidi yang lebih mahal tentunya menambah beban perajin, dengan biaya produksi yang tinggi. (Harian Jogja Cetak)

Advertisement

Advertisement
Kata Kunci :
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif