Jogja
Jumat, 20 Januari 2017 - 20:20 WIB

Pengusaha Buta Huruf Sulit Mengakses Bank, Ini solusinya

Redaksi Solopos.com  /  Nina Atmasari  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi uang (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Modal usaha dari Bank sulit diakses oleh warga yang buta huruf

Harianjogja.com, JOGJA-Rendahnya tingkat pendidikan pelaku usaha di daerah pedesaan menjadi kendala untuk mengakses pinjaman dana di bank. Pengusaha seperti inipun diarahkan untuk menyasar dana pinjaman corporate social responsibility (CSR) yang dimiliki perusahaan-perusahaan.

Advertisement

Direktur Human Capital PT Wijaya Karya (Wika) I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra mengatakan, rendahnya tingkat pendidikan yang dialami beberapa pengusaha memang menghambat dalam pengelolaan usaha. Adanya pengusaha yang mengalami buta huruf menghalangi bisnisnya untuk berkembang.

“Orang bank nggak akan mau [meminjamkan dana pada pengusaha buta huruf],” katanya saat memberikan pembekalan pada calon wisudawan-wisudawati program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (18/1/2017).

Ia pun menyarankan agar para pengusaha di desa mencari pinjaman dana ke lembaga lain seperti perusahaan. “Harus cari perusahaan yang ada CSR-nya karena orang bank takut ngasih uang untuk usaha yang tidak jelas,” katanya.

Advertisement

Menurutnya di Jogja banyak perusahaan yang memiliki program sosial pengembangan bisnis. Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mendapatkan modal usaha.

PT Angkasa Pura 1 Bandara Adisutjipto sendiri setiap tahun menyalurkan pinjaman dana untuk pelaku UMKM. General Manajer PT Angkasa Pura 1 Bandara Adisutjipto Agus Pandu Purnama mengatakan, sepanjang 2016, pinjaman kemitraan yang telah disalurkan mencapai Rp3 miliar.

Penyaluran pinjaman terakhir dilakukan pada 30 Desember 2016 lalu. Saat itu, Pandu menyerahkan pinjaman kemitraan kepada 17 UMKM di DIY dengan total dana Rp865 juta. “Kegiatan itu bertujuan memberdayakan UMKM agar lebih mandiri dan membantu dalam pembangunan sarana umum yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Advertisement

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Dinas Koperasi dan UMKM DIY Agus Mulyono sebelumnya mengatakan,  bisanya pelaku usaha akan meminjam uang di bank saat ingin meningkatkan skala produktivitasnya. Sementara untuk tahap awal membuka bisnis, mereka akan mengandalkan modal sendiri.

“Kalau untuk kepentingan mengembangkan produk seperti itu biasanya mereka baru akan berpikir untuk mendapatkan modal pinjaman di bank,” katanya.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif