Jogja
Jumat, 3 Juni 2011 - 09:34 WIB

Tanpa sapi, hidup tiada berarti...

Redaksi Solopos.com  /  Budi Cahyono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Sapi seakan menjadi peliharaan wajib bagi warga pedesaan di Gunungkidul. Sapi bahkan menjadi salah satu indikator tinggi rendahnya status sosial masyarakat. Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap sapi, salah satunya mandi bareng.

Bowo, 50, warga Jasem, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu mengaku kerap membawa sapinya untuk dimandikan di Telaga Sureng, Pacarejo. Dua hari sekali, sapi miliknya harus dimandikan. Saat sapinya mandi, Bowo juga turut mandi sekolam dengan sapinya, meski airnya sangat keruh.

Advertisement

“Sudah biasa kalau mandi di sini, jadi tidak khawatir,” ujarnya kepada Harian Jogja beberapa waktu lalu.

Sebagaimana ibu memandikan bayi, di telaga itu seluruh tubuh sapinya tak luput dari gosokan tangan Bowo. Tangannya yang kusut dan hitam legam mencari segala celah terkotor dari lekukan tubuh rajakaya itu. Baginya sapi sudah menjadi bagian dari hidup. Pria yang setiap hari bertani itu mangaku tanpa sapi, seorang petani desa tak lagi bisa bersemangat. Sapi kesayangan Bowo dibeli tiga bulan lalu.

“Mumpung harganya masih murah jadi saya beli yang kecil, kalau beli kecil nanti kan pasti jadi besar,” imbuhnya.

Advertisement

Bowo berharap, anjloknya harga sapi tidak berlangsung lama. “Kecintaan kami terhadap ternak seperti tidak sebanding dengan harga sapi,” katanya.(Wartawan Harian Jogja/Sunartono)

HARJO CETAK

Advertisement
Advertisement
Kata Kunci :
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif