SOLOPOS.COM - Gua mangrove menjadi alternatif objek wisata yang bisa ditemukan di kawasan wisata Pasir Mendhit, Jangkaran, Temon, Kulonprogo. Gua in menyediakan sensasi menelusuri lorong rindang daro pohon yang efektif menahan abrasi pantai ini, November 2016. (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Wisata Kulonprogo akan saling mendukung dengan keberadaan bandara baru

 

Promosi Pembunuhan Satu Keluarga, Kisah Dante dan Indikasi Psikopat

Harianjogja.com, KULONPROGO-Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kulonprogo bersiap menyusun detail engineering design (DED) pengembangan wisata mangrove di Desa Jangkaran, Temon.

Harapannya, kawasan tersebut juga dapat berkontribusi dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Seksi Obyek dan Sarana Prasarana Disparpora Kulonprogo, Kuat Tri Utomo mengatakan, wisata mangrove berpotensi dikembangkan menjadi kawasan penyangga bandara. Keberadaan bandara baru diperkirakan mampu meningkatkan jumlah wisatawan secara signifikan.

Sebelum dijadikan obyek wisata andalan, pengelola perlu berbenah dan mendapatkan dukungan dari pemerintah. “Kita rancang apa saja bisa dikembangkan, termasuk untuk menghadapi bandara,” ujar Kuat, Senin (5/12/2016).

Penyusunan DED kawasan wisata mangrove telah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kulonprogo 2017. Nilainya mencapai Rp150 juta.

Kuat mengungkapkan, dana tersebut dianggap cukup untuk melakukan berbagai kajian terhadap potensi dan arah pengembangan wisata mangrove.

Kuat lalu memaparkan, kelengkapan dan kelayakan sarana prasana pendukung wisata menjadi salah satu perhatian utama dalam penyusunan DED.

Menurutnya, fasilitas penunjang wisata mangrove saat ini cenderung masih minim. Kondisi itu dinilai wajar mengingat pengelolaannya selama ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat sekitar.

“Ada beberapa sarana prasarana dan fasilitas umum yang mungkin bakal dibuat lebih besar karena disiapkan untuk menampung pengunjung yang lebih banyak,” kata Kuat.

Kepala Disparpora Kulonprogo, Krissutanto pun menyatakan tidak akan menghilangkan konsep ekowisata pada penyusunan DED nanti. Kelestarian tanaman mangrove dan lingkungan hidup tetap mendapatkan perhatian khusus. Dua hal itu tidak akan dihilangkan karena dianggap sebagai daya tarik utama.

Krissutanto berpendapat, DED mutlak dibutuhkan agar kawasan wisata mangrove dapat dikelola secara lebih profesional. Perencanaan yang dibuat juga dapat diintegrasikan dengan program pengembangan kawasan wisata lain, seperti Pantai Glagah dan Waduk Sermo.

Program pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi wisata mangrove juga diharapkan menjadi lebih optimal. “Setelah ada DED, akan kelihatan bagaimana arah pengembangannya. Nanti disiapkan juga akses jalan menuju ke sana, tempat parkir, sampai tempat kulinernya,” ucap dia.

Krissutanto menambahkan, kawasan wisata mangrove diproyeksikan menjadi salah satu sumber PAD Kulonprogo. Meski begitu, hal itu masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Saat ini, instansinya masih fokus mengembangkan potensi yang ada agar dapat dikelola dengan lebih baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya